Seorang Anak Yatim yang Dijadikan Tokoh Masyarakat Oleh Allah
Pada suatu hari dilahirkan seorang anak dikalangan ummat islam, sampai umur 2 tahun dia ditinggal wafat oleh bapaknya, hiduplah dia sebagai anak yatim. Dan tibalah di umur 7 tahun dia dimasukkan kesekolah Madrasah Ibtidaiyyah sampai kelas 3 Mts, dia sebagai siswa yang terkadang dibully oleh teman-temannya sehingga dia menjadi anak dengan sisi spiritual yang sangat hangat sebab ujian dan cobaan yang sering dia hadapi, namun dengan sisi intelektual yang lemah.
Menginjak pada hari kelulusan, anak ini sudah direncanakan oleh orang tuanya akan dimasukkan ke pondok pesantren AhlusSunnah Wal-Jamaah, dan sampailah dihari anak ini dipasrahkan kepada pengasuh atau kiyai pondok pesantren tersebut, dan tibalah anak tersebut dihari pertama sebagai santri dan saling kenalan dengan santri-santri yang lain yang sudah lama dan yang sama-sama baru, dari hari ke 2 sampai hari ke 5 dia diceritakan kisah santri-santri terdahulu oleh santri yang sudah lama yang di antaranya ialah mengenai keistiqomahan.
Setelah mendengarkan hal keistiqomahan, santri tersebut bangkit perasaannya, dan mungkin sebab pengalamannya diwaktu sekolah dulu yang selalu dibully, tapi tidak dijadikan niat oleh anak atau santri tersebut karena dia tahu bahwa amal tanpa ikhlash Karena Allah, merupakan perbuatan yang buruk dan salah yang berarti memilih kerugian yang lebih besar dibandingkan hasil yang tidak seberapa, kemudian timbullah perencanaan di hatinya mengenai keistiqomahan seperti yang sudah diceritakan.
Tiba di keesokan malamnya setelah kegiatan pondok, dia langsung berangkat ke tempat ziarah para pengasuh yang sudah wafat dan membaca Al-Qur'an sampai satu surah, dan balik ke kamarnya kemudian istirahat yang terus berulang-ulang sampai malam ke 7 dia menghadapi rasa malas, cape' dan bosan hampir seperti yang sudah diceritakan, lanjut di malam ke 21 dia diajak teman-temannya kumpul kumpul sambil ngemail, tapi dia mengatakan bahwa dirinya sedang ada urusan seperti yang sudah diceritakan, dan teman-temannya memakluminya, kemudian lanjutlah dia sampai hari ke 36 dan yang dihadapinya ialah berupa sakit, dan sungguh di titik ini dia hampir saja gagal tapi dia teringat pada masa-masa dirinya dibully lalu bangkitlah lagi semangatnya, akan tetapi dia cepat merubah niatnya Karena Allah, dan berangkatlah dia seperti sebelumnya sampai hari ke 41 seperti yang sudah diceritakan bahwa biasanya cobaan terberatnya adalah jin makhluk halus.
Berangkatlah dia dengan kesiapan yang sudah sangat di hatinya, dan sampailah di daerah pintu masuk dia melihat seperti baik-baik saja, ada 3 orang yang sedang mengaji dan setelah melihatnya hatinya berangsurangsur tenang dan kemudian dia membaca Al-Qur'an seperti sebelumnya dan setelah dapat 1/4 dari satu surah dia mendengar suara jangkrik yang sangat banyak dan dia tidak merasa aneh kemudian sesampainya separuh surat dia merasakan angin yang berhembus dingin pada tubuhnya dan dia tetap dengan perasaan biasa dan setelah tinggal 5 ayat, dia terasa ada yang menggelutik di daerah sekitar tempat tulang sulbinya , pada saat menoleh dia melihat ke 3 orang tersebut di dalam keadaan muka yang rata dan kaburlah dia dengan nafas yang terengah-engah sampai separuh jalan, di hatinya bergumam maju mantap mundur gagal dan dia teringat kembali pada masa-masa kanak-kanak yang seri di bully dan bangkitlah semangatnya, tapi dia cepat-cepat merubah niatnya kembali Karena Allah dan kembalilah dia ketempat ziarah tadi dan sesampainya keadaannya lebih ramai dibandingkan tadi dan dia sadar bahwa itu adalah jin sebab tidak ada jalan lain selain jalan yang dilewatinya tapi dia dengan hati yang teguh tetap berusaha berjalan ke tempat dia mengaji walaupun dengan tubuh yang merinding, sesampainya dia lanjut mengaji sampai selesai dan diakhiri dengan tashdiyq, kemudian dia dengan langkah kaki yang cepat, berusaha balik ke pondoknya dan sesampainya di daerah pintu masuk semua orang yang ada di tempat itu langsung hilang dan dia langsung lari, sesampainya di kamarnya dia disambut oleh teman-teman yang lain yang ternyata mereka sudah menghitung dari malam pertama sampai malam ke 41 di saat itu, mereka bertanya "kamu kenapa kok terengah-engah, kamu ketemu makhluk halus, yaa" dan berceritalah dia di malam itu.
Setelah itu dia tetap melanjutkan keistiqomahan tersebut dan ditambah dengan keistiqomahan yang lain setelah yang wajib.
Comments
Post a Comment